Friday, May 21, 2010

Sepenggal Cerita di Stasiun Juanda

Terburu buru aku pulang dari kantor menuju stasiun juanda karena jam telah menunjukkan pukul 17.30. Biasanya aku pulang kantor sekitar pukul 15.30 setelah sholat ashar , tapi hari itu memang pekerjaanku sedang menumpuk dan deadline pula, sehingga mau tidak mau aku harus menyelesaikan pekerjaanku tersebut.

Sesampai di stasiun juanda sudah penuh dengan manusia yang sama2 ingin pulang dengan kereta, memang untuk orang2 yang berdomisili di daerah bogor dan berkantor di Jakarta kereta adalah alat transportasi yang biasa di gunakan, selain cepat dan murah juga tidak stress dengan kemacetan yang memang sudah menjadi ciri khas kota Jakarta. Walaupun kereta terkadang sering molor datang, berjubel2 isinya..tapi tetap banyak peminatnya.

Sambil menunggu kereta ekspress datang aku menikmati sepotong pisang goreng yang masih hangat untuk menghilangkan nyanyian di perutku. Tak lama kemudian datang kereta ekonomi bogor terlebih dahulu. Penumpang rebutan naik agar bisa terangkut walaupun kereta telah penuh sesak. Tiba-tiba mataku tertuju kepada salah seorang bapak tua yang (maaf) pincang kakinya, dia berjalan dengan tongkat di kedua tangannya, ikut berusaha naik kereta tersebut. Walaupun badannya sempat terdorong oleh orang- orang yang tidak mempedulikannya, akhirnya bapak tua tersebut bisa masuk ke dalam kereta.

Melihat kejadian itu aku jadi malu sendiri, kalau kereta telat pasti keluar sumpah serapah dari mulutku, sering aku mengeluh letih menjalani kesehariannku. Ya Allah ampuni aku yang kurang bersyukur atas nikmatmu, bapak tua itu telah memberi pelajaran padaku, dengan keadaan seperti itu dia tetap berjuang untuk menghidupi keluarganya tanpa mengeluh walaupun harus berusaha dengan sekuat tenaga. Dengan tubuh tuanya yang kurus, tidak sempurna, dia tidak mengharapkan bantuan orang lain dengan meminta-minta, berusaha menjaga harga diri & keluarganya.

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang engkau berikan hingga hari ini. Aku akan semangat lagi menjalani hidup ini, tanpa keluhan dan ocehan, walau kadang letih menderaku. Berilah hidayah & ridhoMu dalam mengarungi kehidupan ini. Seperti dalam hadist yang mengatakan “ Kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok, dan kejarlah duniamu seakan akan kau hidup selamanya”.

Amin..

By. Uli -

2 comments:

Anonymous said...

Uly, thx ya, aq jadi lebih semangat dan lebih mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Allah SWT.

uli said...

sama..mudah2an kita menjadi orang yang selalu mensyukuri atas segala apa yang sudah kita dapatkan..amin

Post a Comment

Silakan berkomentar apa pendapat kalian di sini ya...